Friday, February 5, 2010

Valentine's Day di bulan Pebruari

Bila anda berjalan ke toko - toko penyedia aksesoris atau mall - mall di bulan Pebruari ini, maka akan banyak dijumpai pernak - pernik yang berkaitan dengan lambang cinta or kasih sayang. Mulai dari pin berlogo 'love' , gantungan kunci, stiker, dompet, dan lain sebagainya yang berbau CINTA. Mereka yang ada di negeri 'barat' biasa menyebut bulan pebruari sebagai hari kasih sayang, valentine's day , tepatnya tanggal 14 Pebruari .
Dan bila dilihat ternyata tradisi valentine's day ini juga sudah begitu melekat di kalangan remaja Indonesia, bahkan anak - anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) pun tahu akan hal itu. Tergelitik juga saya untuk mencari tahu tentang apa sebenarnya valentine's day itu. Dari sebuah artikel blog berikut saya kutip sejarah yang berhubungan dengan valentine's day. Semoga kita bisa memahami untuk dijadikan dasar pertanyaan pada diri sendiri : haruskah saya merayakannya?

The St. Valentine who is spoken of as the apostle of Rhaetia, and venerated in passau as its first bishop. (Encyclopedia Briatannica, volume XIV, hal. 949).

Valentine, St. priest and physician of Rome who suffered martydorn probably during the persecution under Claudius II in 269. his feast is on 14 Feb. The custom of sending valentines probably had its origin in a heathen practice connected with the worship of Juno Februalis at the Lupercalia(*) or perhaps in the mediaval belief the birds commenced to mate onf 14 Feb. (Everyman’s Encyclopedia, volume XII, hal 388).

“St. Valentine adalah seorang pendeta dan tabib dari Roma yang (dianggap) martir sewaktu kaisar Claudius II pada tahun 269 M. Peringatan tersebut pada tanggal 14 Febuari. Kebiasaan dengan mengirim valentine-valentine berasal dari upacara penyembahan berhala yang dikaitkan dengan peribadatan Juno Februarlis di goa Lupercal, atau (bisa jadi) pendapat bahwa burung-burung kwain pada tanggal 14 Februari.”

(*) Lupercalia merupakan upacara keagamaan (ritual) yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno yang dilaksanakan setiap tahun untuk menyembah dewa Lupercus, yang oleh mereka dianggap sebagai dewa kesuburan, dewa padang rumput dan pelindung ternak. Sebagai suatu upacara ritual kesuburan, Lupercalia juga dihubungkan dengan penghormatan dan penyembahan kepada dewa Faunus sebagai dewa alam dan pemberi wahyu. Upacara atau festival tersebut dipimpin dan diawasi oleh suatu badan kegamaan yang disebut Luperci dan para pendetanya disebut Luperci.

Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma. Setelah itu dua orang Luperci (dalam sumber lain dua orang pemuda) dibawa ke sebuah altar, kemudian sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan pada kening mereka dan darah itu diseka dengan kain wool yang telah dicelupkan ke dalam susu. Setelah itu kedua orang tersebut diharuskan tertawa.

Kemudian para luperci memotong kulit kambing yang dikorbankan dan dijadikan cambuk. Kemudian mereka berlari dalam dua geromboloan mengelilingi bukit Palatine dan tembok-tembok kuno di Palatine, mencambuki setiap wanita baik yang mengikuti upacara maupun yang mereka temui di jalanan. Para wanita yang menerima cambukan itu dengan senang hati karena menurut mereka cambukan itu dapat menyebabkan atau mengembalikan kesuburannya.

Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Lewat masuknya agama Nasrani itu dan berbagai jalan yang ditempuhnya, dia memegang peranan penting dalam hal merubah agama yang dikejar-kejar dan diancam sebelumnya menjadi agama yang dominan (bersifat nasional). Pengaruh agama nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dan tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari.



“St. Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup yang pertama.”

Kesimpulan dari definisi tersebut adalah Valentine’s day dirayakan untuk mengormati dan mengkultuskan st. Valentine yang dianggap martir yang mati dibunuh pada tanggal 14 Februari 269 M (sumber lain menyebutkan 270 M) dan juga dianggap sebagai seorang utusan dan uskup yang dimuliakan. Pengambilan istilah itu juga dikaitkan dengan Lupercalia, upacara keagamaan orang Romawi Kuno dan juga bahwa burung-burung kawin pada tanggal tersebut.

Tentu sobat akan bertanya-tanya apa arti martir? Martir adalah orang yang dianggap mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan (agama). Sedangkan kita tidak tahu agama apa yang dipertahankannya itu.  

Bagaimana ?

2 comments:

Lina Marliana said...

hehehe.. aku udah tua nih, jd kayak moment valentin gini udah ga jaman lagi buatku.. hehhehe

Phuad said...

hmm...
pokokny yg jelas,umat islam tidak boleh memperingati hari valentine day ini,haram hukumnya..
sygny bnyk remaja yg belum tw hal ini..
nice info sob :D
lnjutkan dakwahny :)

Artikel pada katagori yang sama

 

LDII Sampit - Kalimantan Tengah Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez

Jadual Pengajian LDII Sampit di Masjid Barokah - Jl.Gn.Slamet Hari Minggu,Rabu,Jum'at Jam 19.30-21.00 WIB Materi Al-Quran (Bacaan,makna,keterangan) dan Al Hadist Kitab Sunan Abu Dawud. Hadirilah ...http://ldiisampit.blogspot.com/