Sunday, January 3, 2010

Tradisi Upacara Tiwah Di Kotawaringin Timur

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau - pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia ...

Petikan lagu dari " Dari Sabang Sampai Merauke " menunjukkan betapa luasnya wilayah negeri Indonesia tercinta, terdiri dari ribuan pulau terbentang dari barat sampai timur. Keaneragaman suku, adat dan budaya menjadi hiasan di bumi pertiwi, dan salah satu adat yang menarik untuk disimak adalah "Upacara Tiwah" di Kalimantan Tengah.

Berikut berita tentang tiwah yang di ambil dari http://jidane.wordpress.com/


BEGITU panjang penantian umat Hindu Kaharingan yang tersebar di empat kecamatan di kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah untuk menggelar ritual upacara tiwah. Setelah 100 tahun, mereka baru bisa menggelar ritual itu dengan meniwahkan 33 leluhur.
Prosesi tiwah yang digelar di Desa Bajarum, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotim itu melibatkan 4 Kecamatan yakni Cempaga, Kuala Kuayan, Bukit Santuei, dan Kota Kenyala.
Tiwah bagi masyarakat Hindu Kaharingan merupakan upacara terakhir dari rentetan upacara kematian. Acara Tiwah berkaitan erat dengan konsep roh atau jiwa yang dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju ketika mereka meninggal maka rohnya akan terbagi menjadi tiga.

Pertama, Salumpuk teras liau atau panyalumpuk liau, roh utama yang menghidupkan ini pada saat meninggal dunia langsung kembali ke Ranying Mahatala Langit Sang Pencipta. Kedua, liau balawang panjang ganan bereng, roh dalam tubuh yang dalam upacara balian tantulak ambun rutas matei di hantar ke tempat yang bernama lewu balo indu rangkang penyang. Dan ketiga, liau karahang tulang, silu, tuntang balau. Ini adalah roh yang mendiami tulang, kuku dan rambut. Pada saat mati roh ini tinggal di dalam peti mati. Upacara yang terakhir adalah tiwah yaitu menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkannya ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau.
Ketua panitia acara tiwah Dwi Dowes Ahad mengatakan, ritual tiwah ini baru terlaksana setelah hampir 100 tahun menanti. “Persiapannya sudah dilaksanakan sejak 4 bulan sebelumnya dan pelaksanaannya sekitar 1 minggu,” ujarnya disela prosesi tiwah.
Ritual tiwah kemarin menyembelih hewan kurban berupa kerbau 1 ekor, sapi 2 ekor, babi 40 ekor, dan ayam 60 ekor. Menurutnya, acara tiwah adalah ritual sakral yang harus dilestarikan bagi generasi penerus karena merupakan acara adat istiadat Hindu Kaharingan yang sudah ada sejak nenek moyang.
Dia berharap, kelestarian budaya adat tiwah ini perlu dijaga dan dilestarikan secara bersama-sama dan hendaknya jangan dijadikan sebagai acara ritual biasa melainkan memahami makna yang terkandung didalamnya.(***)

1 comment:

Sutantio E Purwanto said...

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai permasalahan, persentuhan antar budaya akan selalu terjadi karena permasalahan silang budaya selalu terkait erat dengan curural materialisme yang mencermati budaya dari pola piker dan tindakan dari kelompok sosial tertentu dimana pola temperamen ini banyak ditentukan oleh faktor keturunan (genetic), ketubuhan dan hubungan sosial tertentu. Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk individual yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat dengan orietasi kebudayaannya yang khas, sehingga baik pelestarian maupun pengembangan nilai-nilai budaya merupakan proses yang bermatra individual, sosial dan cultural sekaligus.

Artikel pada katagori yang sama

 

LDII Sampit - Kalimantan Tengah Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez

Jadual Pengajian LDII Sampit di Masjid Barokah - Jl.Gn.Slamet Hari Minggu,Rabu,Jum'at Jam 19.30-21.00 WIB Materi Al-Quran (Bacaan,makna,keterangan) dan Al Hadist Kitab Sunan Abu Dawud. Hadirilah ...http://ldiisampit.blogspot.com/